BABI RUSA

| Rabu, 15 Oktober 2014
Babirusa merupakan hewan endemik Sulawesi, Indonesia. Babirusa yang dalam bahasa latin disebut sebagai Babyrousa babirussa hanya bisa dijumpai di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya seperti pulau Togian, Sula, Buru, Malenge, dan Maluku. Sebagai hewan endemik, Babirusa tidak ditemukan di tempat lainnya. Sayangnya satwa endemik ini mulai langka.
Sang binatang endemik Babirusa, mempunyai tubuh yang meyerupai babi namun berukuran lebih kecil. Yang membedakan dari babi dan merupakan ciri khas babirusa mempunyai taring panjang yang mencuat menembus moncongnya. Lantaran bentuk tubuh dan taring yang dipunyainya hewan endemik Sulawesi ini dinamakan babirusa.

Seekor babirusa
Satwa endemik ini dalam bahasa inggris sering disebut sebagai Hairy Babirusa, Babiroussa, Babirusa, Buru Babirusa, ataupun Deer Hog. Sedangkan nama latin hewan yang endemik Sulawesi, Indonesia ini disebut sebagai Babyrousa babirussa dengan beberapa nama sinonim seperti Babyrousa alfurus (Lesson, 1827), Babyrousa babirousa (Jardine, 1836), Babyrousa babirusa (Guillemard, 1889), Babyrousa babirussa (Quoy & Gaimard, 1830), Babyrousa frosti (Thomas, 1920), Babyrousa indicus (Kerr, 1792), Babyrousa orientalis (Brisson, 1762), dan Babyrousa quadricornua (Perry, 1811).
Satwa yang terancam punah ini terdiri atas tiga subspesies yang masih bertahan hidup sampai sekarang yaitu; Babyrousa babyrussa babyrussa, Babyrousa babyrussa togeanensis, dan Babyrousa babyrussa celebensis serta satu subspesies yang diyakini telah punah yakni Babyrousa babyrussa bolabatuensis.

Ciri-ciri dan Perilaku Babirusa. Babirusa mempunyai ciri khas bentuk tubuhnya yang menyerupai babi namun mempunyai taring panjang pada moncongnya. Hewan endemik Indonesia ini mempunyai tubuh sepanjang 85-105 cm. Tinggi babirusa sekitar 65-80 cm dengan berat tubuh sekitar 90-100 kg. Binatang endemik yang langka ini juga mempunyai ekor yang panjangnya sekitar 20-35 cm.
Babirusa (Babyrousa babirussa) memiliki kulit yang kasar berwarna keabu-abuan dan hampir tak berbulu.  Ciri yang paling menonjol dari binatang ini adalah taringnya.  Taring atas Babirusa tumbuh menembus moncongnya dan melengkung ke belakang ke arah mata. Taring ini berguna untuk melindungi mata hewan endemik Indonesia ini dari duri rotan.
Babirusa termasuk binatang yang bersifat menyendiri namun sering terlihat dalam kelompok-kelompok kecil dengan satu babirusa jantan yang paling kuat sebagai pemimpinnya.


Babirusa (Babyrousa babyrussa)
Babirusa mencari makan tidak menyuruk tanah seperti babi hutan, tapi memakan buah dan membelah kayu-kayu mati untuk mencari larva lebah.  Babirusa menyukai buah-buahan seperti mangga, jamur, dan dedaunan. Satwa langka endemik Indonesia ini suka berkubang dalam lumpur sehingga menyukai tempat-tempat yang dekat dengan sungai.
Babirusa betina hanya melahirkan sekali dalam setahun dengan jumlah bayi satu sampai dua ekor sekali melahirkan. Masa kehamilannya berkisar antara 125 hingga 150 hari. Selah melahirkan bayi babirusa akan disusui induknya selama satu bulan. Setelah itu akan mencari makanan sendiri di hutan bebas. Hewan endemik ini dapat bertahan hingga berumur 24 tahun.
Babirusa termasuk binatang yang pemalu dan selalu berusaha menghindar jika bertemu dengan manusia. Namun jika merasa terganggu, hewan endemik Sulawesi ini akan menjadi sangat buas.
Habitat, Populasi, Persebaran, dan Konservasi. Babirusa (Babyrousa babyrussa) tersebar di seluruh Sulawesi bagian utara, tengah, dan tenggara, serta pulau sekitar seperti Togian, Sula, Malenge, Buru., dan Maluku. Satwa langka endemik ini menyukai daerah-daerah pinggiran sungai atau kubangan lumpur di hutan dataran rendah.
Beberapa wilayah yang diduga masih menjadi habitat babirusa antara lain Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Cagar Alam Panua. Sedangkan di Cagar Alam Tangkoko, dan Suaka Margasatwa Manembo-nembo satwa unik endemik Sulawesi ini mulai langka dan jarang ditemui.
Populasinya hingga sekarang tidak diketahui dengan pasti. Namun berdasarkan persebarannya yang terbatas oleh IUCN Redlist satwa endemik ini didaftarkan dalam kategori konservasi Vulnerable (Rentan) sejak tahun 1986. Dan oleh CITES binatang langka dan dilindungi inipun didaftar dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diburu dan diperdagangkan.
Berkurangnya populasi babirusa diakibatkan oleh perburuan untuk mengambil dagingnya yang dilakukan oleh masyrakat sekitar. Selain itu deforestasi hutan sebagai habitat utama hewan endemik ini dan jarangnya frekuensi kelahiran membuat satwa endemik ini semakin langka.
Babirusa (Babyrousa babyrussa) yang merupakan satwa endemik Sulawesi Indonesia tentunya tidak akan bisa ditemui di negara manapun selain di negeri kita. Jika kita masih tetap tidak peduli tentunya seluruh umat di bumi akan kehilangan. Biasanya, sesuatu baru terasa berharga jika sesuatu itu telah tidak ada. Akankah hal ini berlaku pada sang endemik Indonesia, babirusa?
Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Animalia; Filum: Chordata; Kelas: Mammalia; Ordo: Artiodactyla; Famili: Suidae; Genus: Babyrousa; Spesies: Babyrousa babyrussa (Linnaeus, 1758)
Sinonim: Babyrousa alfurus (Lesson, 1827), Babyrousa babirousa (Jardine, 1836), Babyrousa babirusa (Guillemard, 1889), Babyrousa babirussa (Quoy & Gaimard, 1830), Babyrousa frosti (Thomas, 1920), Babyrousa indicus (Kerr, 1792), Babyrousa orientalis (Brisson, 1762), dan Babyrousa quadricornua (Perry, 1811).
Upaya - upaya untuk melindungi babi rusa :
1.  Perlindungan hutan: Unit Perlindungan Nantu, sebuah unit perlindungan keanekaragaman hayati inisiatif, yang terus berpatroli di hutan Nantu. Unit ini terdiri dari enam asisten lokal bekerja bersama empat polisi pasukan khusus. Operasional di Nantu selama sepuluh tahun terakhir, termasuk prestasi menghentikan illegal logging, pembukaan tebang-dan-bakar dan perburuan satwa liar di Nantu. Sebelum berdirinya sepuluh rakit kayu ilegal (40 m3) yang diekstrak dari DAS Nantu harian dan tujuh belas babirusa dan anoa dua per minggu terperangkap oleh pemburu di sekitar salt-lick. Unit ini mencegah penghancuran unik salt-lick “Adudu”. Tiga salt-lick alami sebelumnya terjadi dalam DAS Paguyaman. Saat ini hanya tinggal satu, dua lainnya, yang berada di luar batas cadangan Nantu telah hancur.
2. Perawatan iklim: menetapkan Nantu sebagai “hutan demonstrasi” berbiaya rendah, “pencegahan deforestasi” dampak tinggi  dan pendidikan perawatan iklim bagi Indonesia.
3. Pendidikan: menetapkan Nantu sebagai pusat pendidikan internasional dan lokal dan penelitian hutan hujan. Sebuah pusat pelatihan lapangan telah dibangun di Nantu, dimana lokakarya pelatihan konservasi reguler dan kunjungan studi lapangan untuk masyarakat setempat, tokoh agama, sekolah guru dan siswa sedang dilaksanakan.
4.  Pengembangan masyarakat: bantuan mata pencaharian kepada masyarakat setempat, termasuk kegiatan yang menghasilkan pendapatan (penanaman pohon dan bantuan pertanian), berbasis desa hidro-listrik, klinik kesehatan, dan bantuan advokasi hukum.
5. Kesadaran dan pembangunan kapasitas: melaksanakan program kesadaran keanekaragaman hayati, termasuk “Konser Konservasi” yang dilakukan sendiri oleh orang lokal Gorontalo, perpustakaan desa ekologi dan sumber daya dan pusat kesadaran “CafĂ© Nantu”. Proyek ini juga bertujuan untuk mendukung ilmuwan lokal dan nasional melalui keuangan, dukungan logistik dan akademik untuk MSc. dan studi PhD di Biologi Konservasi.
6. Program sekolah: melaksanakan kunjungan studi Nantu, pendidikan pengajaran lingkungan, beasiswa Hutan Nantu (menyediakan pendidikan sekunder untuk anak-anak lokal) dan pengembangan materi kurikulum konservasi. Seri buku cerita bergambar anak-anak, membangun keberhasilan “Tempat Khusus di Hutan”, tentang Red-Knobbed Hornbill dan Tersier spektral yang direncanakan.
7.  Pengelolaan hutan berbasis masyarakat: perintis inisiatif manajemen partisipatif berbasis desa, termasuk pos jaga desa, forum pemangku kepentingan Nantu dan pos batas perlindungan cadangan.
8.  Perdagangan satwa liar: proyek bergerak Unit Anti-Perburuan aktif terhadap perdagangan satwa liar Sulawesi. Termasuk mencegah diangkutnya babirusa yang dilindungi secara hukum (umumnya dijerat dengan kawat jerat kaki) dibawa ratusan kilometer dari kawasan hutan ke pasar daging. Proyek Unit Anti-perburuan melaksanakan pos pemeriksaan 24 jam sepanjang jalan utama, kampanye untuk meningkatkan kesadaran untuk pemburu dan penyuplai dan bekerja sama dengan peradilan lokal, polisi dan pemburu untuk mencegah kepunahan babirusa dari perdagangan ini.

Pohon Berbanir Raksasa yang Ada di Hutan Sulawesi Bagian Utara. Foto: Rhett A. Butler


Referensi dan gambar: http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/2461/0; http://www.celebio.org;

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲